Mengapa Hukum Agama TIDAK Memajukan Peradaban? Kajian Psikologi.


Mengapa fakta bahwa hukum agama, seperti TAURAT yahudi, DOGMA kristen abad pertengahan & SYARIAT Islam sama-sama punya prestasi TIDAK berhasil membuat manusia MAJU?? Bukankah katanya itu perintah Tuhan? Itu persoalan yang sulit dijawab. Apa Tuhan yang sudah gagal? Atau itu sebenarnya hanya sistem buatan manusia?
Banyak sekali pertanyaan. Hukum agama itu membuat frustrasi.  Tujuan agama sudah maksimal baik dan manusia sudah bersusah payah melaksanakan, tetapi mengapa tetap gagal? Mengapa berdampak buruk jika diterapkan?? Mengapa terbukti kalau agama didasari pada Hukum Agama (yang negatif, jangan ini jangan itu, kalau melanggar dihukum keras) pasti akan membuat peradaban manusia jadi mundur??



Ada yang berpendapat Arab tidak menerapkan secara tuntas hukum syariah. Benarkah? Orang itu pasti tidak pernah ke Arab dan membandingkan kondisi di sana dengan kondisi di Indonesia atau China secara jujur.
Taliban dan Somalia itulah yang menerapkan secara lebih tuntas, lengkap dengan militia bersenjata dan pembajakan kapal kafir mencari jarahan berpedoman surah Al Anfaal sebagai firman Allah mengenai bagi membagi harta rampokan. Aku yakin itu surah adalah buatan manusia bukan Allah. Bayangkan kalau Allah yang pemilik alam semesta triliunan bintang ini membela yang nista begini, berfirman menyuruh merampok dan bagi-bagi jarahan?? Apa Allah itu raja mafia atau ketua garong??
kurang contoh kah mereka menerapkan secara tuntas??  Mereka negara-negara Islam itu contoh bangsa yang selalu ketinggalan di belakang dalam kemajuan peradaban (pemikiran, ekonomi, sosial, teknologi, pendidikan, ...).


Lihat saja kampanye Pilkada DKI 2012 putaran kedua dimana kubu Fauzi Bowo dan Rhoma Irama itu, mengutip ayat-ayat SARA dan sama sekali tidak cerdas dan jadi polemik. Rhoma Irama mengatakan haram hukumnya di bawah atasan non muslim, karena azab Allah besar http://www.youtube.com/watch?v=KiYEc2z30mo. Lalu seorang berkomentar, lalu bagaimana kita yang bekerja di perusahaan swasta yang bosnya non muslim, apa masuk neraka juga?


Aku ingat jaman dulu ketika orang-orang belum rajin beragama seperti sekarang, rasanya hubungan antar manusia Indonesia jauh lebih mesra dibanding sekarang. Malahan agama jadi pemecah belah persatuan. Puasa menyebabkan perayaan kemerdekaan tidak seperti dulu. Fatwa menyebabkan mengucapkan selamat natal saja haram. Fatwa menyebabkan kekerasan, perang agama, perusakan nightclub, masjid, gereja, candi, dan patung-patung landmark kota.

Lihat juga FPI yang berusaha memberantas kemudharatan nightclub dengan kemudharatan yang lebih besar yaitu merusak harta benda dan menganiaya orang lain.


Hukum agama atau syariah itu, sekalipun tujuannya baik, namun di situ nampak keterbatasan usaha manusia biasa dalam beragama. Hukum agama itu nampanya sangat logis dan masuk akal. Sering dibanggakan sebagai solusi yang logis agar manusia taat sepenuhnya. Selain itu, hukum agama itu kalau diterapkan akan melanggar hak asasi, dimana hukum menginjak martabat manusia, katanya pengasih penyayang kok main rajam dan gebuk. Inilah dilema dan masalah mendasar syariah sehingga selalu terjadi pro kontra. Pihak pro bersikukuh dengan alasan itu adalah jalan paling sempurna. Di sisi lain pihak kontra berkeras juga karena semakin diterapkan hukum itu semakin buruk bagi peradaban dan hak asasi manusia.

Tujuan agama sudah maksimal baik tetapi mengapa jadi berdampak buruk jika diterapkan?? Mengapa terbukti kalau agama didasari pada Hukum Agama (yang negatif, jangan ini jangan itu, kalau melanggar dihukum keras) pasti akan membuat peradaban manusia jadi mundur??

Syariah mengandung di dalamnya kelemahan dan keterbatasan manusia itu sendiri.

Pertanyaan pertama, Mengapa kalau agama didasarkan pada Hukum syariah tidak pernah membawa kemajuan?

Sebab itu melanggar hukum alam psikologi manusia.

Kajian bapak psikologi modern Sigmund Freud dalam makalahnya "On Negation" di tahun 1925, dikutip dalam bukunya Richard Restak, Smart and Smarter, Gramedia 2001-5 halaman 148, mengutip singkatnya sebagai berikut : "Otak tidak menangani negativitas dengan baik. Jika kita memusatkan pikiran untuk MENGHINDARI HASIL BURUK, bukan pada cara untuk mendatangkan hasil yang baik, maka otak akan memusatkan diri pada YANG NEGATIF."

Kalau atlet mau sukses, jangan mikirnya bagaimana supaya TIDAK salah memukul, melainkan bagaimana caranya BERHASIL memukul bola.

Kalau kita mau sukses belajar menyetir, jangan mikirnya bagaimana menghindari tabrakan (apalagi di Jakarta yg brengsek ini, pasti ketakutan duluan )--> tapi bagaimana cara berhasil menyetir yg baik dan manfaat yg diperoleh dari menyetir.

Tips dan tricks, bukan larangan dan ketakutan.

By nature, Hukum itu selalu larangan dan negatif. Tujuannya memang itu: membatasi, bukan mengembangkan.  

Kalau mau punya anak sukses, jangan dari kecil diajari jangan ini jangan itu, ini haram ini bahaya seperti syariat itu, tapi harus diajari caranya pakai korek api dengan baik, cara menggunakan pisau dengan baik, cara bersikap yg baik, cara memanfaatkan narkoba dengan baik untuk pengobatan, cara memanfaatkan alkohol untuk kebaikan, dan lain-lain. Semua itu ada manfaatnya jika dilakukan dengan niat benar. Bukannya semua alkohol dilarang, tape ketan dilarang, brem dilarang, bisa nanti tempe dilarang karena itu juga hasil fermentasi.

Hukum-agama syariat itu negatif. Melarang duluan sebelum terbukti. Surga-nerakanya saja dimana seperti apa belum bisa dibuktikan, kok sudah melarang dan menghukum manusia. Beda dengan hukum-positif yg kita pakai, ada bukti kriminalitas, ada saksi, baru bisa dijatuhi hukuman.

kalau kita memusatkan diri pada hukum agama yang negatif itu, maka otak kita dengan sendirinya akan berpikir selalu negatif. Kalau kepercayaan agama kita isinya hanya tatacara dan larangan puasa yang segudang-gudang itu, maka isi otak kita di bulan Romadhon akan selalu negatif. Angkara murka di ubun-ubun siap meledak. Lihat orang senang sedikit di nightclub tidak terima. Negatif pada orang lain (orang lain selalu kafir), ketakutan masuk neraka dan kutukan, dll dll akhirnya kita tidak berbuat apa-apa selain tidur dan mikirin makan enak dan uang untuk ber Lebaran.

SEBUAH BANGSA dapat dipastikan akan terpuruk, kalau isinya SYARIAT AGAMA: jangan ini jangan itu, perempuan nyetir mobil sendiri dilarang, cewek harus pakai jilbab tanpa kecuali, apalagi dibatasi sekolah, tidak boleh kerja, berenang di kolam renang dilarang, bahkan sudah muncul fatwa yang tidak masuk akal seperti tidak boleh makan ketimun karena itu mirip anunya lelaki, dan sebagainya.

Tidak ada kreativitas. Yang ada adalah NEGATIVITAS.

Hukum agama ini semacam racun kepercayaan, kata atheis. Manipulasi pikiran bawah sadar, kata para pakar hipnosis. Usaha para manusia untuk mencapai tingkatan moral lebih tinggi, kata para agamawan. Model politik untuk berkuasa, kata para ulama. Tapi menurutku ini juga semacam masterpiece dusta dari alien yang sengaja ditanamkan dalam otak spesies manusia demi tujuan supaya manusia tidak pernah tahu siapa mereka dan bahwa spesies homo sapiens manusia diperlakukan sebagai peliharaan, sumberdaya dan makanan, hamba dan budak, mainan dan barang dagangan, sama seperti kita menjual belikan dan memotong dan makan ternak kita.


Hindari Negatif, Dorong ke Positif


Sebab itulah kalau mengacu pada ajaran Isa Almasih, agama sebagai petunjuk normatif tidak boleh menekankan sisi negatif hukum agama, melainkan harus ke sisi POSITIF  - lakukan ini, lakukan itu. Ini baik dilakukan. Tolong orang, berkata manis dan baik, menulis baik dan sopan. Beramallah nanti dapat pahala surga (meskipun yg omong gitu juga belum pernah lihat surga dan belum tentu kesana kalaupun ada). Tetap optimis dalam kekurangan atau problema hidup. dst dst.. Isa mengatakan bahwa ada Spirit atau Ruh ilahiyah bernama Rohulqudus yang membantu manusia mengatasi kelemahan jasmani semacam nafsu dan "tabiat daging."



Syariah adalah Maksimum Manusia

Syariah itu dibuat dengan niat baik dan luhur untuk mencapai tingkatan moral yang lebih tinggi, dan syariah adalah hasil karya maksimum buatan manusia. Dengan semua aturan yang berusaha mencakup seluruh hidup manusia, syariah adalah usaha maksimal manusia fana normal untuk mencapai moral dan spiritual yang lebih tinggi. Tetapi sampai disitulah batasnya usaha manusia. Namun untuk tingkatan lebih tinggi lagi, syariah tidak sampai ke sana.

Syariah dan Taurat mengatakan untuk balas dendam pada musuh, namun Isa mengatakan untuk membalas kebaikan pada kejahatan. Bagaimana mungkin? Itu tidak normal. Itu supernormal, adikodrati, atau spiritual. Itu melampaui hukum syariah.

Bagi syariah, mengampuni musuh itu tidak mungkin karena itu tidak normal dilakukan manusia.   Syariah tidak mampu membawa kepada hidup setelah mati yang adalah spiritual, sebab syariah bermain hanya pada tingkatan jasmani dan manusia normal dunia. Syariah adalah puncak evolusi agama manusia normal. Syariah adalah gambaran dari keterbatasan usaha manusia itu sendiri.


Manusia Perlu Metode Yang Lebih Tnggi untuk Mencapai Hidup Setelah Mati yang dalam dimensi Spiritual 

Sebab itulah hukum agama memerlukan terobosan lain, intervensi spiritual dari atas, bahwa Tuhan bekerja nyata secara positif dan secara spiritual dari dalam batin manusia untuk melakukan perubahan, menspiritualisasi manusia sehingga memungkinkan manusia menjadi spiritual dan ilahiyah dan hidup selamanya seperti Tuhan. 

Selain mencintai musuh, melakukan kebaikan dalam semua aniaya dan kejahatan, tetap sabar dalam penderitaan, tetap benar dalam lingkungan berlumur dosa, hidup lagi setelah mati itu adalah perbuatan yang terjadi bukan normal, melainkan spiritual dan adikodrati.

Intinya kita manusia perlu intervensi caranya Tuhan itu untuk mencapai spiritualitas, surga atau hidup abadi setelah mati. Itulah sebabnya Tuhan itu Mahakuasa, tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang percaya, kata Isa Almasih. 


Pekerjaan Ruh Tuhan dalam Diri Manusia

Manusia sudah mencapai batas maksimal beragama dalam hukum syariah itu. Sekarang tibalah waktunya pekerjaan Tuhan. Untuk itulah Isa sebagai Utusan dari surga (itu pengakuan Isa sendiri, bukan dogma kristen) datang ke dunia mewahyukan jalan beragama yang lebih tinggi dari syariah.

Menurut Isa, perubahan manusia menuju kebaikan dan moral tinggi bisa dilakukan secara positif dan nyata oleh RUH dari DALAM batin, tidak cukup dengan hukum syariah yang negatif dan dipaksakan dari luar itu.  Misalnya, Tuhan yang bekerja dari dalam manusia, memampukan dan mengubah mental manusia yang kotor menjadi bersih. Perubahan dilakukan oleh Ruh dalam jiwa manusia. Proses spiritualisasi yang tidak bisa diuraikan karena tidak nampak mata. Kalau jiwanya bersih, lihat perempuan telanjang juga tidak akan membuat batin jadi kotor. Sebaliknya jika mentalnya kotor, empat istri juga tidak cukup, semua dihalalkan, tawanan dipaksa, bahkan menantu diambil jadi istri, terus pembantu istri juga ditiduri sekalian sampai hamil.


Pada bagian lain akan kubahas apa saja solusi dan terobosan yang dilakukan oleh Tuhan, menurut ajaran dan perbuatan sekaligus bukti hidup, bukti mati, dan bukti hidup lagi Isa Almasih.