Asal Usul Jilbab dan Masalah Mengatasi Hawa Nafsu Lelaki


Banyak perempuan memakai jilbab, tetapi apakah pakaian ini berpengaruh pada syurga? Atau hanya mode untuk penampilan? Darimana asal usul jilbab? Darimana asal usul burqa dan mengapa dipakainya seperti itu?

Baca juga mengupas benar tidakkah Jilbab itu Asal Usulnya dari Tatacara Perempuan Yahudi??

Jadi kamu sudah pakai dan tahu mengenai burqa atau jilbab? Ikuti kuiz ini untuk menguji pengetahuan kalian tentang jilbab dan burqa. 

Jilbab dan burqa adalah satu hal misterius dalam Islam. Asalnya sangat sederhana.

Jadi, asal usulnya, dulu itu, Nabi hidup berpindah-pindah dalam tenda, dengan para istri. Lalu setiap malam hari para istri buang hajat, muncullah persoalan kesopanan.

Sahih Bukhari 4, Number 148:

Dikisahkan oleh Aisha: Istri2 nabi biasa pergi ke Al-Manasi, sebuah lapangan terbuka (dekat Baqia di Medina) untuk buang hajat di malam hari. Umar meminta nabi, “Suruh istri2mu mengenakan kerudung.” Tapi rasulullah tidak melakukan itu. Suatu malam saat Isha, Sauda binti Zama, istri nabi keluar untuk buang hajat, dia adalah wanita yang tinggi. Umar melihatnya dan berkata; “Aku tau itu kamu, wahai Sauda!”. Dia ('Umar) berkata begitu karena dia ingin ada perintah illahi tentang pemakaian Al-Hijab (jilbab bagi wanita). Maka Allah menurunkan ayat pengerudungan. (Al-Hijab; seluruh tubuh ditutupi termasuk mata).

Jadi jelas tujuan burqa adalah toilet berjalan, yang jelas penting dan perlu dan sopan.

Perempuan Indonesia yang cerdas, kalau dicari sampai mumet dalam sejarah, hanya sesederhana itu asal usulnya. Bukan firman Allah atau yang lain. Hanya masalah Muhammad yang ingin melindungi harga dirinya dan milik kepunyaannya dari mata jahil para pengikutnya.

Jangan percaya ulama dan pemuka yang giat mengkampanyekan jilbab. Tidak relevan!

Ini adalah masalah kesopanan dan etika saja.

Jadi apa solusinya ??

Pikirkan dan ini ada tugas untuk dijawab:
  • Masa asal usul seperti ini dipakai untuk mewajibkan perempuan pakai jilbab bahkan burqa hitam ?? 
  • Mengapa gadis disuruh pakai jilbab?? Apa relevansinya dengan kisah istri Nabi diatas?? 
  • Burqa niqab dan jilbab itu bukan perintah Allah tetapi kemauan Muhammad agar istrinya tidak ketahuan kalau buang hajat pada malam hari. Itu untuk menghindari mata jahil Umar dan lelaki lain pada istri Muhammad. Muhammad punya sekitar 30 istri. Perempuan adalah gengsi baginya, sebab itu jangan sampai dilihat-lihat lelaki lain, apalagi di malam hari sedang buang hajat. Jilbab adalah "kloset berjalan".
  • Tujuannya adalah kesopanan bukan dipaksa menutupi diri habis-habisan sampai tuntas demi menegakkan status lelaki sebagai pemilik perempuan. 
  • Tidak ada kaitan sama sekali dengan syurga dan neraka, apalagi pahala dan azab.
  • Tidak ada kaitan jilbab dengan spiritualitas. Bohong besar.  
  • Apakah itu tepat jilbab dikaitkan dengan nafsu lelaki? Yang syahwat adalah lelaki, yang dikarungi perempuan. Dimana-mana bunga itu memberi madu, mewangi dan menarik serangga, itu kodrat. Bukannya lelaki yang harus menahan diri?
  • Perempuan dimana-mana itu lebih bermoral daripada lelaki. Tidak seperti lelaki yang mata keranjang. Kalau tidak mampu belajarlah pada Sang Buddha, karena Buddha di bawah pohon bodhi pernah dicobai oleh dewi setan penggoda seksual dengan semua jurus daya tarik seks, dan Buddha menang!!  
  • Dan harus tahu bahwa iklim Indonesia itu panas dan lembab, bukan kering seperti Arab??
  • Mengapa perempuan yang selalu jadi korban kesewenangan lelaki yang mata keranjang?? 

Ada cerita lucu
http://www.answeringmuslims.com/2012/11/iranian-woman-puts-cleric-in-hospital.html
Seorang ulama Islam Iran di jalanan menegur seorang perempuan supaya menutupi dirinya. Mungkin supaya pakai jilbab. Jawaban si perempuan, "Tutupi matamu"  Si ulama mendesak, tetapi dihajar dan didorong si perempuan sehingga si ulama jatuh terjengkang dan masuk rumah sakit.

Tiga Metode Mengatasi Hawa Nafsu Lelaki. 

Dalam pengalaman beragama manusia, setidaknya ada tiga cara mengatasi hawa nafsu lelaki.

1. Metodenya Isa adalah perubahan spiritual dari dalam, ditambah secara aktif mengalihkan dengan melakukan kegiatan positif dan menghindari tempat dan kesempatan yang negatif bisa memunculkan zinah.  Ini akan aku bicarakan lebih lanjut nanti.

2. Metodenya Buddha mirip tetapi sedikit beda, yaitu lebih pasif, dengan mematikan hawa nafsu melalui pertapaan dan penguasaan pikiran. Usaha manusia dengan mematikan keinginan dari sumbernya. Sebab itulah ada pertapaan dan tempat khusus para bhikku melakukan olah batin untuk mematikan nafsu dari sumbernya.

Apapun dua metode ini, intinya metode ini bisa. Buktinya adalah Budha dan Isa sendiri, yang bisa mengendalikan nafsu, tidak kawin semau-maunya.

3. Kalau solusinya Muhammad, solusi pencegahan dan supresi negatif, perempuan yang ditutupi rapat, sementara lelakinya boleh mengumbar nafsu dengan lebih dari satu istri, jadi solusinya solusi fisik dan paksaan hukum dari luar.

Ini lebih detil tentang metodenya Muhammad: Sumber nafsu adalah kodrat lelaki yang diciptakan Tuhan dari semula, tetapi perempuan yang harus dikorbankan dulu untuk membatasi nafsu lelaki itu. Perempuan diatur disuruh menutupi semua sumber daya tarik yang secara kodrat adalah milik perempuan, dipisah supaya tidak bertemu lelaki, tidak boleh ke tempat umum tanpa diantar lelaki, diancam dengan cerita katanya neraka penghuninya mayoritas perempuan, hukuman cambuk dan rajam di depan umum, dan seterusnya. Lelakinya? tidak ada metode batiniah-spiritual mengekang nafsu, tetapi boleh menyalurkannya, dengan cara-cara khas berikut ini. Pertama, kawin poligami. Muhammad boleh dengan siapapun, sampai punya 31 istri dan selir, maka orang Islam boleh sampai dengan 4 dan mudah kawin cerai, artinya bisa ganti-ganti istri semaunya. Kedua, kawin mut'ah (kawin kontrak) yang intinya menghalalkan pelacuran dan pemuasan nafsu kalau pas ada di tempat asing atau tugas luar kota tanpa keharusan izin istri. Ketiga, budak adalah boleh dijadikan budak seks, dan itulah yang terjadi sekarang pada PRT kita di Saudi Arabia, menuruti perintah Muhammad yang membolehkan seks dengan budak dan perkosaaan pada tawanan perang. Keempat, janji Al Quran dan hadis sahih bahwa syurga katanya berisi ranjang berjejer dan layanan 72 bidadari yang selalu perawan dengan payudara yang tidak menggantung.
Dalam hukum syariah, kalau terbukti zinah, perempuan yang lebih berat dihukum, dan masalahnya perkosaan harus dibuktikan lebih dari 4 saksi. Seorang perempuan dituduh zinah, lalu oleh Muhammad disuruh dirajam batu setelah melahirkan, dan hadis mencatat perempuan itu memohon boleh menyusui untuk terakhir kalinya (sahih  Muslim 682).  Coba bikin film kisah sejarah ini. Bersyukur hukum primitif yang tidak berperikemanusiaan pada perempuan semacam ini tidak diberlakukan di negeri kita. Kalau tidak, hukum cambuk di depan umum seperti di Aceh untuk pelacur, bayangkan dosa para lelaki jalang yang minta dan membayar jasa si perempuan itu,  dan kemana harga diri perempuan yang dituduh berzinah padahal sebetulnya diperkosa atau suka sama suka dan harus mengandung janin ulah lelaki yang melenggang bebas dalam sistem syariah itu. Kasihan kaum perempuan! Hukum rajam diberlakukan sebagai teror dan paksaan dari fisik, luar, jasmaniah.

Hukuman dan ancaman adalah metodenya Muhammad untuk supresi atau pembatasan.
Untuk mengatasi hawa nafsu lelaki, Islam tidak mengajarkan perubahan mental lelaki sebagai sumber dan pelakunya. Muhammad mengajarkan penindasan hawa nafsu dengan hukuman dan teror jasmani, kemudian  menciptakan hukum yang baru: cara menyalurkan dan mengumbar hawa nafsu seks: 

  • dengan mencari istri sebanyak-banyaknya (Surah 33:50), atau empat (Al Qur'an 4:3,129), 
  • boleh kawin cerai dengan mudah cukup dengan ucapan tiga kali talak, 
  • kawin mut'ah mau kontrak berapa lama boleh atau kawin siri dengan aturan tidak jelas, 
  • boleh kawini dan perkosa pembantu dan tawanan seperti dilakukan Nabi pada Mariya Qibtiyahdi ranjangnya Hafsah dan pada Rayhana di medan pembantaian Khaybar, 
  • kawini menantu sendiri seperti dilakukan Nabi Muhammad pada Zainab mantunya, 
  • kawin dengan anak kecil sebelum akil balik umur 9 tahun (UU Iran nomor 1041, Ayatollah Khomeini menikahi anak 10 tahun, dan Muhammad SAW menikahi Aisyah umur 9 tahun), 
  • bahkan aku pernah dengar ada ulama Iran dengan dasar hadis membolehkan gituan dengan bayi! Ayat hadis sebagai pembenarannya (!!).


Dalam Islam, lelaki diperbolehkan mengumbar hawa nafsunya dan kekuasaannya atas perempuan. Tidak ada ancaman apapun untuk lelaki, asalkan "mampu", boleh. Itu semua diperkuat dengan hukum dan bukti teladan sang Nabi Muhammad Sallalahu Allaihi Wassalam 

Kelemahan Islam adalah caranya dan sejarahnya dalam diskriminasi dan penurunan derajat perempuan dalam sistem kekuasaan laki-laki. 

Muhammad sehingga dengan demikian tidak mengajarkan apalagi melakukan metode batin spiritual dari dalam untuk mengendalikan nafsu, seperti yang diajarkan Buddha dan Isa. Islam mengajarkan cara fisik untuk mengatasi masalah fisik. Cara batiniah hanya dalam training ESQ, dan cara ruhaniyah tidak diketahui dan aku tidak pernah mendengar di masjid dibicarakan itu. Dari sini aku sering berpikir, ini Islam sebetulnya agama atau bukan? Kalau mau masuk akhirat yang badan halus atau spiritual, kenapa tidak mengajarkan metode spiritual, tetapi hukum syariat yang jasmaniah? Kalau hanya tujuan dunia, maka lebih baik jadi ideologi politik saja. Atau maunya akhirat tapi dengan syariah tidak akan sampai kesana, karena metodenya tidak memadai. 

Aku protes dengah caranya lelaki memperlakukan perempuan dalam sistem syariah !!

Wahai perempuan, sudah kodrat kalian dicipta oleh Tuhan menjadi yang indah dan pengatur keindahan dan keserasian, bukan untuk diperbudak dan dipenjara dalam keegoisan lelaki yang mengatas namakan Tuhan, padahal mereka sendiri yang tidak bisa mengontrol hawa nafsu mereka, dengan mengobral nafsu mereka, mempoligami, mengorbankan perempuan. Perempuan dijadikan warga nomor dua, setiap kali selalu dirugikan. Jilbab adalah bukan cara spiritual untuk mengatasi nafsu lelaki. Lelaki harus diajari cara mengendalikan mata dan batin mereka dan itu sudah ada caranya. Perempuan adalah pemegang moral keluarga, dari dulu sampai kapanpun. Tidak ada perempuan berbuat amoral jika bukan lelaki yang terlebih dahulu meminta melakukannya. Tidak ada pelacuran kalau bukan lelaki yang membayarnya. Tidak ada pornografi kalau bukan lelaki yang menggemarinya. Lelaki harus bertanggung jawab atas surga neraka mereka sendiri, perempuan sudah bisa bertanggung jawab sendiri! 

Sampai disini mestinya jelas. Kesimpulanku sudah dari bukti. Bukti Muhammad adalah dari kasus menantu Nabi yang diambil istri, Mariya Qibtiyah pembantu Hafsah yang dijadikan selir, Aishah yang umur sembilan tahun resmi dikawin, dan kisah-kisah lain. Di lain pihak, pengikut Isa umumnya beristri satu, menahan diri dan setia sampai mati tidak gampang kawin cerai. Pengikut Isa dan Buddha malah ada yang tidak kawin.

Mengenai kesalahan filosofis dan psikologis mendasar dalam hukum syariah sehingga tidak pernah berhasil dimanapun diterapkan ada pada tulisan di bawah ini:
Mengapa Hukum Agama TIDAK Memajukan Peradaban? Kajian Psikologi.

Mengenai dua cara pandang manusia yang melandasi sebuah agama sehingga melakukan hukum syariah termasuk jilbab:
http://duniapemerhati.blogspot.com/2012/08/agama-hamba-atau-agama-anak-takut-atau.html



Metodenya Isa Almasih Mengatasi Nafsu dan Meningkatkan Akhlak dan Spiritualitas adalah dengan cara Spiritual juga. 


Terus terang, tentang perempuan, Isa Almasih percaya mereka. Perempuan adalah pemegang moral keluarga, itu fakta. Lelaki itu perusak moral, itu fakta juga. Jadi Isa hanya menganjurkan lebih agar lelakinya yang menahan diri untuk tidak memandang perempuan dan berzinah dalam hatinya. Zinah itu dosa, dan zinah itu bisa dilakukan dalam hati saja, tidak perlu terwujud. Dosa zinah bisa berakibat fatal ke neraka, kata Isa.

Menghadapi nafsu kebinatangan atau "keinginan daging", Isa memberikan solusi dari sisi spiritual. 

Manusia tidak mungkin mengatasi nafsu jasmani hanya dengan pembatasan dan hukuman. Disitulah letak keterbatasan hukum syariah. Hukum syariah adalah maksimal upaya manusia untuk membatasi nafsu, tetapi tidak berhasil memuliakan atau mengubah spiritual manusia naik ke level spiritual yang dikehendaki.

Oleh sebab itu, manusia perlu memperoleh campur tangan ruh untuk mengatasi nafsu. Paul mengatakan itu sebagai transformasi batiniah atau "pembaruan budi". Isa mengatakan sebagai "lahir baru dalam ruh." Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Tuhan, kata Isa. "Ruh itu bekerja seperti angin," tidak kelihatan tetapi ada hasilnya.

Pertempuran manusia melawan nafsu dan mengendalikan diri ternyata bukan hanya usaha manusia, sebab usaha manusia sudah mencapai puncaknya melalui hukum syariah. Diperlukan intervensi ilahi dari Tuhan. Solusi Spiritual itu bukan dari manusia, melainkan dari Ruh ilahi.

Lihat solusinya secara spiritual oleh Isa Almasih dalam : 

Ajaran Isa Almasih (2): Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang Mengenai ajaran tentang Tuhan dan berita baik yang dibawa Isa Almasih.
Ajaran Isa Almasih (3): Kasihilah Tuhan dan Sesamamu Mengenai "hukum syariah"nya Isa Almasih.
Ajaran Isa Almasih (4): Kerajaan Allah  Mengenai konsepsi roh dan wilayah pemerintahan Tuhan
Ajaran Isa Almasih (5): Agama Spiritual  Mengenai format secara lebih riil agamanya Isa secara singkat.

Isa tidak menulis buku apapun. Ajarannya + perbuatannya + buktinya adalah satu paket tidak terpisah. Lebih sederhana karena sedikit sekali akidah dan hukum, melainkan praktek nyata dalam hidup. Bersifat softskill untuk dipraktekkan dalam hidup.
Isa Almasih sudah ada sebelum Kristen dan Islam ada, jadi ajaran Isa itu bisa jadi tidak sesuai  dogma atau akidah Kristen atau Islam.


UPDATE

Ini dia ketemu analisisnya,

http://trulyislam.blogspot.com/2009/01/asal-muasal-jilbab.html



UPDATE

Aku sering menonton al-Jazeerah, dan melihat tayangan video tentang Dubai, sungguh heran, disana perempuan lebih modern dari Indonesia! Mereka tampil tanpa jilbab, malahan iklan-iklan yang ditunjukkan di TV dan tempat2 umum adalah juga wanita cantik dengan rambut bebas terurai lepas. Ada apa dengan perempuan Indonesia, atau ini semua hanya tren sesaat saja?


ASAL MUASAL JILBAB




Ayat mengenai hijab diturunkan karena Umar bin Khattab merasa risih melihat isteri2 Nabi Muhammad melaksanakan “panggilan alam” di lapangan terbuka pada malam hari. Coba simak beberapa Hadist berikut

Sahih Bukhari 4, Number 148:

Dikisahkan oleh Aisha: Istri2 nabi biasa pergi ke Al-Manasi, sebuah lapangan terbuka (dekat Baqia di Medina) untuk buang hajat di malam hari. Umar meminta nabi, “Suruh istri2mu mengenakan kerudung.” Tapi rasulullah tidak melakukan itu. Suatu malam saat Isha, Sauda binti Zama, istri nabi keluar untuk buang hajat, dia adalah wanita yang tinggi. Umar melihatnya dan berkata; “Aku tau itu kamu, wahai Sauda!”. Dia ('Umar) berkata begitu karena dia ingin ada perintah illahi tentang pemakaian Al-Hijab (jilbab bagi wanita). Maka Allah menurunkan ayat pengerudungan. (Al-Hijab; seluruh tubuh ditutupi termasuk mata).



Sahih Bukhari 74, Number 257:

Dikisahkan oleh 'Aisha: 'Umar bin Al-Khattab sering berkata kepada Rasul Allah, "Suruhlah istri2mu mengenakan kerudung." Tapi Sang Rasul tidak melakukan hal itu. Istri2 Nabi biasa buang hajat hanya di waktu malam saja di Al-Manasi.' Suatu kali, Saodah, anak perempuan Zam'a keluar dan dia adalah wanita yang tinggi. 'Umar bin Al-Khattab melihatnya dan berkata, "Aku tahu itu kamu, wahai Sauda!" Dia ('Umar) berkata begitu karena dia ingin ada perintah illahi tentang pemakaian kerudung (hijab bagi wanita). Maka Allah menurunkan ayat pengerudungan. (Al-Hijab; seluruh tubuh ditutupi termasuk mata). (Lihat Hadis nomer 148, volume 1).

Lihat juga Sahih Muslim Book 026, Number 5397

Isteri2 nabi kita biasanya pergi ke lapangan terbuka pada malam hari untuk memenuhi panggilan alam (buang air besar dan kecil) tanpa kerudung atau hijab. Umar bin Khattab pernah memergoki dan mempermalu Sauda, salah satu isteri Nabi Muhammad, ketika sedang buang air. Kenapa ya Umar bin Khattab ngurusin isteri orang buang air? Karena ini dia meminta Muhammad untuk menurunkan ayat tentang jilbab. Awal pertama Muhammad menolak, namun karena Muhammad takut kalau2 Umar ketagihan mengintip aurat istri2nya, akhirnya ia menurunkan ayat jilbab juga.

Al-Quran 33:59


Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri2 orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Walaupun ayat mengenai Hijab telah diturunkan, tapi kelihatannya Nabi Muhammad masih mempunyai masalah dengan fungsi hijab. Walaupun Sauda sudah menggunakan hijab, tetapi tetap saja Umar bin Khattab bisa mengenali Sauda ketika sedang buang air karena memang posture tubuhnya yang tinggibesar.

Coba simak hadis berikut:

Sahih Muslim 5395:

Aisha melaporkan bahwa Sauda pergi ke luar untuk menjawab panggilan alam, dimana penggunaan kerudung telah ditentukan untuk wanita-wanita muslim. Dia adalah perempuan bertubuh besar, sangat tinggi dibandingkan kebanyakan wanita, dan dia tidak bisa merahasiakan dirinya dari siapapun yang telah mengenalnya. Umar bin Khattab melihatnya dan berkata: Sauda, demi Allah, kamu tidak bisa merahasiakan dirimu dari kami (meski telah memakai jilbab). Oleh karena itu, berhati-hatilah ketika kamu keluar. Dia (AIsha) menceritakan: Dia kembali kepada Rasulullah dimana waktu itu beliau ada di rumahku menikmati makan sore nya dan ketika itu beliau sedang memegang sebuah tulang di tangan nya. Dia ( Sauda) datang dan berkata: Rasulullah aku pergi ke luar dan Umar berkata kepada ini dan itu. Dia ( Aisha) melaporkan: Saat itu turunlah wahyu kepadanya (nabi) dan setelah wahyu selesai; dimana tulang tadi masih digenggaman tangan rasul dan tanpa melemparkannya, ia langsung berkata:" Ijin telah diberikan kepada kamu di mana kamu boleh keluar untuk kebutuhanmu."

Ayat 33:59 tersebut diatas sebenarnya diturunkan dengan tujuan untuk melindungi kepentingan yang berhubungan dengan keperluan kaum wanita, terutama isteri-isteri Nabi Muhammad, dalam buang hajat. Dengan adanya hijab yang menutupi dari ujung rambut sampai ujung kaki (burqa atau jilbab versi Arab Saudi) diharapkan para isteri dapat dengan mudah dikenali sebagai kelompok “para isteri Nabi” tanpa diketahui identitas masing-masing individu dan tidak terganggu atau merasa risih saat menjalankan panggilan alam.

Tetapi kenyataannya, Sauda, salah seorang isteri Nabi, yang sudah mengenakan jilbab sesuai ayat 33:59 saat sedang buang air di lapangan terbuka masih tetap saja dapat dikenali oleh Umar dengan mudah karena sosok tubuhnya yang besar, dan masih tetap dipermalukan.

Jadi jika kita mengacu pada Hadits Sahih Bukhari dan Muslim mengenai alasan diturunkannya ayat hijab (33:59) tersebut diatas, maka jelas ayat tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya, malah sebaliknya hanya menjadi “penjara berjalan” bagi kaum wanita di masa kini. Kalo saja saat itu diturunkan wahyu mengenai pembuatan WC umum, maka tujuan utama untuk melindungi para isteri Nabi dan para wanita saat buang air dapat tercapai dan menjadi lebih manusiawi bagi kaum wanita sampai masa kini.

Ada beberapa point yang bisa kita petik disini:

1 Peristiwa ini menjukkan bahwa ayat2 Quran yang katanya copyan dari buku abadi disurga (Lohmahfuz., QS 85:22) bisa direquest oleh manusia (Umar contohnya). Ini hanyalah salah satu bukti yang menguatkan bahwa Quran bukanlah wahyu Allah, Muhammadlah Allah itu.

Sahih Bukhari 8, Nomer 395:

Dikisahkan oleh 'Umar (bin Al-Khattab): Allah setuju denganku akan tiga hal dan Dia mewahyukan ayat2 tentang hal itu, satu diantaranya adalah ayat kerudung bagi wanita (Q 33:59).


2 Ayat2 Quran itu sifatnya kontekstual (tempat dan jamannya), sudah tak dapat lagi diterapkan pada jaman sekarang. Apalagi dikatakan untuk semua masa dan semua bangsa.



3 Muslimah pun tak bisa konsisten mengenai bagaimana jilbab itu seharusnya, jika kita mengacu pada Quran dan hadis, maka jilbab yang benar adalah yang menutupi seluruh bagian tubuh seperti Abbayah di Saudi dan Burqa di Afganistan.



Kita lihat jilbab yang salah!




Jilbab yang sesuai dengan syariah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :


Menutupi seluruh badan


Tidak diberi hiasan-hiasan hingga mengundang pria untuk melihatnya. Allah berfirman :

“Katakanlah (ya Muhammad) kepada wanita-wanita yang beriman: hendaklah mereka menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan mereka, dan jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa nampak darinya. Hendaklah mereka meletakkan dan menjulurkan kerudung di atas kerah baju mereka (dada-dada mereka)… (An-Nuur: 31)


Tebal tidak tipis


Rasulullah bersabda : “Akan ada nanti di kalangan akhir umatku para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang… Kemudian beliau bersabda ; “…laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka itu terlaknat”. (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu`jamush Shaghir dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani dalam kitab beliau Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 125)


Kata Ibnu Abdil Baar t: “Yang dimaksud Nabi dalam sabdanya (di atas) adalah para wanita yang mengenakan pakaian dari bahan yang tipis yang menerawangkan bentuk badan dan tidak menutupinya maka wanita seperti ini istilahnya saja mereka berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang”.


Lebar tidak sempit


Usamah bin Zaid c berkata: Rasulullah memakaikan aku pakaian Qibthiyah yang tebal yang dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau maka aku memakaikan pakaian itu kepada istriku. Suatu ketika beliau bertanya: “Mengapa engkau tidak memakai pakaian Qibthiyah itu?” Aku menjawab: “Aku berikan kepada istriku”. Beliau berkata : “Perintahkan istrimu agar ia memakai kain penutup setelah memakai pakaian tersebut karena aku khawatir pakaian itu akan menggambarkan bentuk tubuhnya”. (Diriwayatkan oleh Adl Dliya Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan, kata Syaikh Al-Albani t dalam Jilbab, hal. 131)



Tidak diberi wangi-wangian


Karena Rasulullah bersabda : “Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu ia melewati sekelompok orang agar mereka mencium wanginya maka wanita itu pezina.” (HR. An Nasai, Abu Daud dan lainnya, dengan isnad hasan kata Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 137)

Tidak menyerupai pakaian laki-laki

Abu Hurairah z mengatakan: “Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 141)


Tidak menyerupai pakaian wanita kafir


Karena Rasulullah dalam banyak sabdanya memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang kafir dan tidak menyerupai mereka baik dalam hal ibadah, hari raya/perayaan ataupun pakaian khas mereka.


Bukan merupakan pakaian untuk ketenaran, yakni pakaian yang dikenakan dengan tujuan agar terkenal di kalangan manusia, sama saja apakah pakaian itu mahal/ mewah dengan maksud untuk menyombongkan diri di dunia atau pakaian yang jelek yang dikenakan dengan maksud untuk menampakkan kezuhudan dan riya.


Berkata Ibnul Atsir: Pakaian yang dikenakan itu masyhur di kalangan manusia karena warnanya berbeda dengan warna-warna pakaian mereka hingga manusia mengangkat pandangan ke arahnya jadilah orang tadi merasa bangga diri dan sombong.


Rasulullah bersabda: “Siapa yang memakai pakaian untuk ketenaran di dunia maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian dinyalakan api padanya”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dengan isnad hasan kata Syaikh Albani dalam Jilbab, hal. 213)


Dan inilah busana muslimah yang benar!








Burqa yang dipakai wanita Afghanistan. Abbayah yang dipakai wanita Arab Saudi. Chador yang dipakai wanita Iraq dan Iran. Ruband yang banyak dipakai wanita Turki tahun 20-an dan 30-an. Bushiyyah yang banyak dipakai saat naik haji.

Andai saja saat itu di Arab sudah ada kamar mandi atau wc umum, pasti ayat mengenai jilbab ini tak akan pernah diturunkan.

Dan wanita tak usah membawa wc portabelnya (kerudung maksudnya) kemana2.

Artikel terkait: Muslimah, buang saja jilbabmu