Ajaran Isa Almasih (5): Agama yang diajarkan Isa Almasih secara ringkas

Berikut adalah ringkasan agama yang diajarkan Isa Almasih, dari Prinsip Dasar, Tujuan dan Visi Misi Beragama, Proses Spiritualisasi sebagai satu-satunya proses beragama, Kompetensi Rohani sebagai kemampuan yang wajib dikuasai dalam beragama dalam bentuk Nilai-nilai rohani (spiritual values), Hukum Agamanya Isa sebagai pedoman dasar semua yang dilakukan dalam hidup, Tatacara Agama menurut perkembangan modern, diakhiri dengan sebuah ringkasan mengenai takdir manusia.


Agamanya Isa Almasih tidak ada yang rahasia, karena terbukti dari perbuatannya. Ajaran+perbuatan+bukti. Tidak ada yang rahasia. Namun demikian banyak pihak yang membuatnya menjadi rahasia, dengan cara ditumpuki, ditimbuni, disampahi, dengan berbagai ajaran para orang suci manusia penerusnya yang tidak sempurna menjadi gunung ketidak-sempurnaan agama, sehingga ajaran Isa menjadi hanya 5 persen dari sebuah buku besar yang menjadi sumber hukum agama yang rumit dan beda dari ajaran asli Isa yang  sederhana dan praktek hidup itu. 

Untuk mempelajari Agama yang diajarkan Isa itu tidak perlu waktu bertahun-tahun atau ikut organisasi agama baru. Ajaran Isa sederhana, praktis, terapan, tepat guna dan tepat sasaran. Cukup satu artikel pendek untuk menjelaskannya!


Untuk apa Agama itu sebenarnya?

Segala sesuatu di dunia ini ada porsinya masing-masing, dan disinilah agama harus didefinisikan jelas apa tujuan, manfaat utama, fungsi, dan ruang lingkupnya untuk apa dilakukan bagi manusia. Selama ini agama itu rancu sehingga menjadi masalah karena mengambil porsi yang bukan bidangnya sementara fungsi utamanya tidak diperhatikan. Ada yang dicampur aduk dengan politik sehingga pemuka agama menjadi pemimpin politik, dan kita tahu sendiri jadinya seperti apa agama itu. Rancu dan dilacurkan tidak jelas. Sebab itu, agama harus didefinisikan jelas, harus simpel, praktis, tepat guna, tepat sasaran, dan hal-hal yang tidak perlu wajib dibuang atau harus lean (mengutip istilah manajemen).

1. Prinsip Dasar Agama Isa

Tuhan itu pengasih dan penyayang. Tuhan itu baik, tetapi juga adil dan benar. Tuhan itu Esa, satu, mahakuasa dan mahaada. Dia semua yang terbaik yang bisa dibayangkan manusia.  Oleh Isa diperkenalkan istilah Abba atau Bapak untuk menjadi simbol yang mewakili natur dan sifat Tuhan. Injil itu hanya terdiri dari berita baik, konsep baru bahwa Allah itu Pengasih dan Penyayang, bukan konsep tuhan yang cemburuan, yang minta tebusan darah dan nyawa, yang menyesal, yang membunuhi manusia, bukan yang menerapkan hukum syariah ketat seperti di masa Isa hidup.  

Kerajaan, daulah, organisasi, atau pemerintahan Allah  di alam semesta itu bersifat rohani, network spiritual kosmos semesta yang jauh lebih luas daripada sekedar kerajaan wilayah yang dicita-citakan manusia. Secara nyata pemerintahan Tuhan itu berupa jaringan komunikasi dan pengaruh spiritual atas seluruh semesta. Komunikasi dengan Tuhan bisa langsung direct dilakukan secara teknis melalui batin manusia. Bahkan dalam diri manusia sudah ada Ruh pemberian Tuhan untuk menjadi penuntun manusia. Semua fasilitas dan sarana itu cukup menuju tujuan beragama dan takdir manusia secara kekal.

2. Tujuan dan Visi Beragama

Tujuan Beragama adalah jelas: Hidup selamanya setelah mati.
Tujuan ini adalah tujuan khas agama, yang tidak bisa dicakup oleh bidang ilmu atau kajian lain.

Itulah juga Misi Agama. Misi Agama adalah menuntun manusia dalam proses dari kefanaan kepada kebakaan, dari materi menjadi spirit, dari jasmani menuju rohani, dari yang fana menjadi yang baqa.

Visi beragama menurut Isa Almasih adalah menjadi sempurna sama seperti Tuhan di Surga adalah sempurna. Visi ini bisa dikejar sekarang juga, tetapi tidak akan pernah tercapai selamanya. Sebagai sebuah visi maka visi ini sangat ideal.


3. Proses Spiritualisasi, metode dan proses utama beragama

Untuk menuju hidup abadi setelah mati itu diperlukan proses spiritualisasi.
Dunia ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang manusia.

Wujud riil apakah yang menjadi tujuan semua proses itu? 

Wujud nyata yang bisa bertahan setelah mati adalah Jiwa atau ada yang menyebutnya arwah manusia yang keluar dari badan manusia setelah mati.
Jiwa itu tidak jadi seketika. Jiwa belum terbentuk ketika kita lahir. Jiwa itu membawa serta dan memuat di dalamnya semua kemampuan, kompetensi, pengalaman, dan memori sepanjang hidup. Jiwa itulah yang keluar dari badan ketika kita mati nanti. Jiwa itu adalah wujud pendahuluan dari wujud ruh (spirit).

Jiwa itu harus dibuat dan terbentuk menjadi spirit atau ruh melalui proses spiritualisasi. Jiwa manusia tidak seketika jadi dan sempurna, perlu kelahiran (disebut Isa dengan jelas sebagai "lahir baru dalam ruh"), kemudian masa panjang pembangunan dan pembentukan. Jiwa manusia itu potensinya nyaris tanpa batas dan tanpa akhir. Belum diketahui dimana batas potensinya.
Sebab itu, pembangunan jiwa harus menjadi prioritas, karena itu menyusun sesuatu yang kekal abadi. Proses pembentukan ruh itu disebut spiritualisasi.

Spiritualisasi adalah pekerjaan membangun wujud ruh, maka tidak bisa dilakukan dengan melakukan hukum syariah agama apapun yang fisik, melainkan hanya bisa dilakukan oleh Spirit yaitu Ruh yang sudah ada di dalam kita. Ruh adalah mentor, guru, penuntun jiwa kita.  Hubungan dengan Ruh Penuntun yang didalam adalah metode dan prioritas agama. Spiritualitas menuju hidup selamanya harus dibentuk berdasarkan petunjuk Spirit. Kita selama hidup ini melakukan proses belajar.

Apa yang dipelajari?

Silabus belajarnya adalah nilai-nilai spiritual yang hendak ditanamkan dan diukir dalam karakter dan pribadi jiwa kita selamanya. Nilai-nilai itu adalah kompetensi inti untuk sukses mencapai hidup abadi itu. Apa itu kompetensi? Kompetensi adalah kemampuan yang harus dimiliki kalau mau berhasil melakukan sesuatu. Maka kemampuan apa yang harus kita miliki agar sukses mencapai hidup abadi? Kita akab bahas lebih lanjut di bawah.

Metodologi proses pendidikan spiritualisasi itu adalah studi kasus pengalaman nyata. Learn by experience. Experiential learning. Sebab itulah kita mengalami berbagai pengalaman unik dalam hidup kita. Itu semua bukan kebetulan, karena nilai-nilai spiritual itu harus diajarkan menjadi kompetensi melekat dalam jiwa kita.

Proses belajar-mengajar melalui pengalaman ini menyebabkan kita dilewatkan jalan hidup yang berliku-liku. Itu semua tidak kebetulan, tetapi memang dirancang demikian.

Makin banyak kita mengalami, makin banyak kita bisa belajar. Isa sengaja belajar kemana-mana. Sama dengan proses belajar yang lain, diperlukan konteks pengetahuan. Pengetahuan adalah kerangka latar belakang dan konteks dimana kita belajar nilai-nilai kekal itu. Pengetahuan akan membawa pada wisdom, kebijaksanaan, yang merupakan salah satu kompetensi yang penting. Semasa mudanya, konon Isa mencari kebijaksanaan sampai India, Babilonia, Mesir, Gerika, dan Roma. Kisah ini tidak diceritakan Isa pada para muridnya, tetapi ditulis dalam sumber-sumber lain. Aku ingat Borobudur juga mengajarkan prinsip yang sama: bertingkat, melingkar, naik sambil terus mengalami pengalaman baru.

Pedoman hidup utama ada di dalam batin hati nurani karena di situ Roh Allah ada, dan metodenya pengalaman hidup. Look inside first, itulah inti agama. Tetapi untuk penerapannya, kita perlu wisdom. Pengetahuan bisa dari aneka sumber, guru, travelling, kitab suci, buku dan sebagainya.

Sebagaimana layaknya belajar, pasti ada ujian. Demikian pula kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan moral, memilih yang baik atau yang jahat. Kita memutuskan, Di situlah kita diuji.

4. Nilai Spiritual, kompetensi inti yang wajib dipelajari dan dikuasai dalam beragama 

Kemampuan yang hendak diukir dan ditanamkan dalam jiwa kita adalah nilai-nilai spiritual. Nilai-nilai ini jika melekat dalam jiwa kita menjadi kompetensi hidup kekal. Apapun nasib kita, siapapun kita, apapun kondisi kita, dalam wujud badan apapun, asalkan kemampuan ini dikuasai, kita akan hidup abadi. Maka kita wajib kuasai kompetensi itu jika mau hidup kekal. Kompetensi apa? Dari telaah hidup Isa, diantaranya dari Khotbah Isa di bukit dan dari sumber lain, di bawah ini mungkin baru sebagian:

Nilai nilai Spiritual atau kompetensi yang wajib dikuasai manusia:
  • Cinta atau kasih sayang,
  • Pengampunan,
  • Kebaikan (tindak nyata),
  • Keindahan,
  • Kesabaran,
  • Jujur atau Integritas, tidak munafik,
  • Ketulusan,
  • Kelemah-lembutan dan kehalusan budi pekerti,
  • Kesetiaan dalam aniaya, berbahagia dalam penderitaan,
  • Keberanian
  • Mengutamakan orang lain
  • ...

Semua nilai spiritual di atas diajarkan dan dilakukan oleh Isa sendiri. Banyak sekali kisah Isa dalam Bible dan dalam hadis Isa literatur Islam mengacu pada nilai-nilai di atas. Isa tidak pernah menulis kitab apapun, sebab agama yang beliau bawa adalah agama spiritual yang melekat dalam perkataan dan perbuatan sehari-hari.

Selain nilai-nilai spiritual di atas, ada lagi hal-hal yang sifatnya kekal abadi, misalnya adalah hubungan keluarga dan pertemanan, ada yang menyebutnya abadi, karena setelah mati kita masih bisa mengenali sanak keluarga kita. Ada lagi banyak yang lain yang belum diungkapkan. Mungkin bakat kita masih ada yang terbawa hingga hidup abadi. Kita tidak tahu semua.

5. Hukum Agamanya Isa

Kasihilah Tuhan dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan
Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri

Satu lagi hukum universal penting Isa Almasih yaitu mengenai hukum universal alam semesta yang disebut hukum karma atau hukum menabur dan menuai. Ini hukum keseimbangan alam semesta, seperti akunting yang sangat tepat, kira-kira berikut ini:
- Siapa menabur akan menuai hasilnya, siapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang. Siapa melakukan kejahatan akan ditagih balasannya. Bahkan dosa yang tersembunyi pun ada hukumannya.
- Siapa melakukan kebaikan akan mendapat balasannya. Jika melakukan kebaikan, usahakan yang tidak bisa dibalas di dunia, sebab nanti upahnya di surga. Berilah pada orang miskin yang tidak bisa membalas, sebab itu pahalanya besar di Surga. Jika dijahati, itu kesempatan untuk mendapat pahala berlipat dengan membalasnya dengan kebaikan!
- Lakukan pekerjaan dengan ikhlas, apalagi itu tugas yang memberi manfaat orang banyak, karena pasti ada pahalanya.

4. Tatacara Agama

Tatacara agama harus dipusatkan sebagai sarana untuk membangun hubungan dengan Tuhan dan membangun jiwa spiritual diri kita, juga untuk sarana membagikan manfaat kebaikan rohani pada sesama. Tatacara harus cerdas. Diantaranya adalah:

- Laku batin (kontemplasi, perenungan dan pengambilan keputusan) secara pribadi

- Meditasi (dalam arti mengheningkan cipta, mendengar ke dalam), mengasah cara mendengar petunjuk  Roh yang didalam.

- Pertemuan ibadah (ceramah harus nilai-nilai spiritual bukan politik ekonomi sosial), jangan menghasut, memasukkan politik, mengkafir-kafirkan, dan sebagainya. Jangan mencoba melacurkan agama, membawa ayat agama untuk kepentingan politik atau uang. Jangan untuk agitasi. Kerusuhan sering terjadi setelah ibadah Jum'at, ingat kasus Solo 1980 meledak dimana-mana umumnya setelah ibadah Jumatan. Orang juga tidak suka masjid atau gereja dipakai untuk propaganda politik, apalagi yang menghasut, karena politisi itu gemar membayar atau membeli agamawan untuk tujuan politiknya.

- Pertemuan majlis taklim, kelompok sel, di rumah tangga, 8-15 orang dimana orang bertukar pengalaman nyata dan saling menguatkan secara rohaniah. Jangan diisi dengan menyanyi terus menerus, juga jangan ndremimil satu jam mengucapkan ayat-ayat hafalan yang tidak dimengerti maknanya.

- Pertemuan ibadah dengan format konser musik yang indah, lagu rohani, dan waktu untuk meditasi dan penyembahan untuk tiap pribadi. Disertai khotbah yang membangun jiwa. Siraman rohani + musical performance.

- Doa pribadi dan di tempat umum dengan bahasa sehari-hari, seperti layaknya bicara, bukan hafalan dan tidak diulang-ulang. Aku ada alasan khusus untuk itu, sebab mengulang-ulang doa semacam itu dilarang Isa Almasih!

Hal lain yang diajarkan Isa Almasih adalah Pemeliharaan Tuhan dan kekuatiran hidup. Jangan kuatir tentang hidup. Untuk cari uang perlu kerja dan Tuhan akan tunjukkan jalannya. Isa dalam Urantia Book dimasa mudanya dicatat pernah menjadi tukang kayu (mebel) meneruskan bisnis Yusuf ayahnya sepeninggal ayahnya pada usia 14 tahun, pembuat perahu berbisnis dengan Zebedeus ayahnya Yohanes/Yakobus muridnya, pedagang toko bengkel karavan di Capernaum, nelayan di Danau Galilea, pandai besi, penerjemah atau juru bahasa dalam perjalanan ke Roma, dan ia tidak pernah kekurangan pekerjaan kalau ia mau kerja untuk cari uang. Pada usia 30 tahun, Isa menjadi pengkhotbah keliling dan tidak lagi bekerja sekuler.

Ringkasan

Berikut adalah beberapa ringkasan filosofi dan prinsip ajaran Isa dari beberapa sumber yang kuringkas dari beberapa tulisan sebelumnya, silahkan dibaca penjelasannya dalam artikel-artikel terdahulu mengenai Isa Almasih dan artikel lebih lanjut:
  • Realitas Alam Semesta: terdiri dari energi, batin (mind), dan materi sebagai 3 dimensi dalam satu kesatuan spektrum luas yang tidak putus.  Ujung spektrum yang satu adalah energi, ujung yang lain adalah materi, ditengahnya adalah batin. 
  • Energi hidup adalah roh (spirit). Roh adalah energi hidup.  
  • Allah itu Ruh, demikian kata Isa. Wujud Tuhan adalah Ruh energi hidup yang mutlak, kekal abadi, tak terbatas, mengatasi ruang dan waktu. 
  • Tuhan sumber dan pusat semua pribadi, semua ruh, semua batin, dan semua materi. 
  • Kerajaan atau pemerintahan Tuhan itu adalah kerajaan rohani, bukan materi. 
  • Karena kita dan Tuhan sama-sama punya kepribadian sehingga bisa bergaul dan saling membangun hubungan layaknya person-to-person. 
  • Tuhan sebagai pribadi punya sifat utama, yaitu Pengasih dan Penyayang, Baik, Indah, Bijak, Adil dan Benar. Tuhan juga absolut, kekal, dan tanpabatas, namun sebagai pribadi, dalam pengalaman kita denganNya kita akan selalu mengenalNya terutama sebagai Tuhan yang Baik. 
  • Untuk sebutan antar pribadi, Tuhan memanggil manusia sebagai anak-anakNya. Kita boleh menyebut Tuhan dengan nama apapun. Sebutan terbaik menurut ajaran Isa adalah Abba atau bapak. Tuhan adalah Bapak alam semesta dan Ia yang terlebih dahulu menyebut kita sebagai anakNya.
  • Tuhan bekerja, melalui Roh yang ditaruhNya dalam batin setiap orang, melalui Roh Kebenaran yang dibawa Isa utusan-Nya, dan melalui para malaikat-Nya. Tuhan masih terus bekerja secara roh. 
  • Pekerjaan Tuhan dalam kita: Kita perlu dilahirkan baru dalam roh, kemudian diajar, dididik, dispiritualisasi atau dirohanikan agar manusia memiliki kompetensi spiritual menuju kehidupan abadi dan kesempurnaan selamanya menjadi seperti Dia. Dengan belajar itu kita mampu memiliki nilai-nilai abadi, kompetensi spiritual untuk meraih hidup yang kekal, melekat dalam diri kita.   
  • Metode pendidikannya melalui pengalaman hidup nyata. 
  • Takdir manusia: Kita manusia dibentuk menjadi anak-anak yang setia, yang kompeten, yang bijak, dan bisa dipercaya. Untuk tujuan dimasa depan yang tanpa batas di alam semesta yang tanpa batas ini. Suatu tujuan takdir yang misterius, belum dipahami dan belum diketahui tetapi pasti sesuatu yang luar biasa. Itulah misteri tujuan mengapa Tuhan menciptakan manusia dari debu dan bersusah payah merawatnya untuk menjadi makhluk yang paling mulia, menjadi Anak-Anak Yang Mahatinggi. 

Jika orang mengerti ajaran Isa dan mengalaminya dalam hidup, maka ia akan seperti menemukan mutiara yang sangat berharga. Ajaran Isa itu begitu praktis, sederhana, spiritual, moral, baik, dan bukti hidup setelah mati. Tidak heran jika Al-Qur'an menyebut Isa sebagai Kalimat-Nya (Allah), dan ada Ruh yang keluar dari dia, Ruh Kebenaran.
  
Ajaran Isa itu menurutku hanya cukup sekian. Sederhana, batiniah, terapan, tidak perlu susah payah secara fisik melakukan berbagai tatacara, tidak ada hari raya atau kewajiban bayar tertentu, tidak perlu syahadat, tatacara doa dan ayat hafalan tertentu, semua adalah softskill attitude batin manusia, dan dilakukan sambil hidup normal. Tuhan mengajari kita dari dalam, melalui kisah nyata pengalaman hidup kita setiap hari. 

Satu saja yang penting: Milikilah hati yang tulus, taat, dan berserah pada kehendak Ruh yang ada didalam batin kita.Manusia dihakimi dan dinilai berdasarkan niat dan kesungguhan.