Ajaran Isa Almasih (2): Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang

Ajaran Isa Almasih yang pertama dan utama ada dalam perkataannya bahwa ia datang kemari diutus ke dalam dunia untuk mewahyukan siapa itu Tuhan yang mengutus dia, sebuah kabar baik bahwa Tuhan itu Pengasih dan Penyayang.

Inilah kabar baik yang dibawa Isa, atau INJIL yang dibawa Isa. 


Tuhan itu macam apa, bisa dilihat dari perkataannya, sikapnya, dan perbuatannya. Sebab itu, perhatikan bukan saja perkataannya (sebab bisa saja muridnya salah mengerti dan salah tulis) tetapi bukti perbuatannya. Kalau hanya perkataan, tafsir menafsir itu sering menciptakan ajaran yang sesat.

Bagaimana kita mengenal Tuhan?  Siapa di sini pernah melihat Allah?? Tidak pernah bukan? Kalau Tuhan itu pencipta matahari, maka Ia pasti jauh lebih hebat dari matahari. Di alam raya ini ada jutaan trilyun bintang yang masing-masing seukuran matahari. Tuhan kalau ada pasti lebih besar dari semua itu. Kecuali ada oknum yang datang dari Tuhan, lalu memberitakan dan menunjukkan dalam perbuatan seperti apa dan siapa itu Tuhan, mustahil kita tahu Tuhan itu seperti apa, dan mustahil kita percayai.

Tanpa petunjuk Tuhan itu seperti apa, maka manusia akan cenderung menganggap Tuhan itu hanya mahakuasa, mahaadil, mahatinggi dan seterusnya, sehingga konsep agamanya akan menjadi berdasarkan syariah atau hukum. Tuhan di posisikan sebagai hakim dan majikan yang jauh dan mutlak tidak tersentuh. Manusia harus tunduk pada hukum agama beraneka ragam. Itulah konsep manusia dunia normal mengenai agama.

Lalu, hadirlah sebuah terobosan inovasi baru dari atas, datanglah ke planet kecil ini seorang bayi manusia dengan misi besar untuk mewahyukan sesuatu mengenai Tuhan. Isa Almasih putra Maryam, dan injil (=kabar baik) yang ia bawa tidak lain tidak bukan hanyalah kalimat basmallah di atas, berita baik bahwa Allah itu pengasih dan penyayang!!


Dengarkan perkataan Isa. Ia berkata "Aku dari atas" "aku dan Bapa adalah satu" "aku diutus oleh Bapa," dan pengakuan seterusnya, menunjukkan bahwa Isa itu mengaku sebagai seorang Rasul Allah dan berasal dari Tuhan.

Lihatlah perbuatan Isa. Isa demikian mencintai sesama manusia, itu ciri utama, demikian cinta hingga ia melupakan dirinya sendiri. Demi pelayanan dan pengabaran kabar baik bahwa Tuhan itu Pengasih dan Penyayang (itulah INJIL yang artinya kabar baik mengenai Tuhan yang demikian itu), Isa rela tidak punya rumah, tidak punya istri, tidak punya pakaian berlebih. Ia hidup sangat sederhana. Waktunya ia habiskan bersama para muridnya berkeliling dan menolong orang banyak. Ia bukan orang kristen yang datang ke gereja tetapi ke sinagog yahudi, bukan pendeta kristen yang berdasi bertoga dan bekerja untuk gereja, bukan petapa miskin hindu buddha yang mencari kesempurnaan dan hidup dari sedekah, bukan ustads islam yang bersorban putih, bukan farisi yahudi karena ajarannya banyak bertentangan dengan mereka, ...

Dari semua tokoh penyebar agama, hanya Isa yang menunjukkan dan mengajarkan dengan begitu aktif,  konsisten dan terbukti, dalam semua baik atau buruk kisah hidupnya, dalam hormat dan nista yang ia alami, di tengah kebaikan dan kejahatan yang mengelilinginya, bahwa Tuhan itu tetap Pengasih dan Penyayang!

Apakah benar Tuhan yang diajarkan dunia semasa Isa hidup itu adalah bukan pengasih dan penyayang. Memang benar. Tuhan (disebut Yahweh di Yahudi) mengajarkan sistem tatacara potong kurban, tatacara agama ketat, dan sistem tertutup. (Syariah itu bukan penemuan Islam, tetapi sudah dilakukan sebelum dan pada masa Isa Almasih. Semua sudah dilakukan: pengurbanan, ziarah tahunan (mirip haji), puasa, doa menghadap kiblat (mirip sholat juga), hukum agama yang ketat mengatur semua aspek hidup, fatwa majlis sanhedrin dewan ulama pembuat undang-undang, raja sebagai eksekutif, hukum rajam, hukum pancung, hukum najis dan tahir mentahirkan, hukum haram halal, babi haram, alkohol haram, judi haram, homoseks dibunuh, dan seterusnya. Aku tidak melihat bedanya. Semua, dari falsafahnya, ideologinya, mekanismenya, ketatanegaraannya, ritual tatacaranya, semua nyaris sama. Bedanya hanya kalau Yahudi itu tidak agresif mengabarkan agamanya pada non Yahudi. Itu saja.)
Isa mengajarkan konsep ketuhanan, falsafah agama, dan tatacara agama yang beda dari agama yang dikenal saat itu di Israel. Itulah kabar baik atau Injilnya Isa.   Lihat artikel mengenai Agama yang diajarkan Isa untuk lebih lanjut.      

Isa tidak berniat duniawi harta kuasa atau wanita, meskipun untuk pekerjaan penginjilan itu ia perlu banyak uang. Banyak yang menyumbang. Bahkan untuk keperluan keluarga para muridnya, Isa menyediakannya, demikian cerita dari The Urantia Book, mengenai Nathaniel yang tugasnya adalah pergi mengirim uang untuk keluarga para murid Isa dan menjenguk mereka jika ada keperluan. Isa punya Matius, tugasnya adalah mencari dana. Isa punya Judas Iskariot si bendahara. Isa sering berurusan dengan uang, tetapi ia tidak hidup untuk mencari uang. Ia menggunakan waktunya untuk menunjukkan siapa itu Tuhan melalui perbuatannya pada sesama.

Itulah makna Injil yang artinya kabar baik. Kabar baik apa?? karena Isa mengabarkan kabar bahwa Tuhan itu Pengasih dan Penyayang, bukan tuhan serupa Yahweh yang cemburuan, minta tumbal sesaji darah kambing domba atau yang minta manusia taat hukum sampai sekecil-kecilnya, pemarah pemurka dan sebentar-sebentar mengancam dengan azab dan neraka.

Injil = Kabar Baik bahwa Allah Itu Pengasih dan Penyayang


Kesimpulan ini aku temukan setelah membaca perkataan dan perbuatan Isa dari berbagai sumber, bukan dogma atau ajaran gereja, sebab misalnya, ajaran Isa datang untuk menebus dosa umat manusia, itu tidak logis dan menjadi perdebatan karena Tuhan itu bukan pegadaian sehingga ada tebus menebus nyawa. Tuhan tidak sadis semacam itu. Ajaran Tuhan yang minta kurban itu melecehkan Tuhan yang Maha Pengampun. Tebusan kambing domba itu ajaran Yahweh yang sebenarnya adalah Iblis karena minta tumbal sajen seperti layaknya setan dimana-mana. Tidak.
Isa datang dengan misi utama mengabarkan tentang Tuhan Allahnya yang pengasih dan penyayang.

Misi Isa yang kedua adalah menyelesaikan pemberontakan setan di planet ini, dan itu mungkin terpaksa dilakukannya dengan mati disalib untuk memenuhi tuntutan iblis. Kita tidak tahu persis transaksi apa yang terjadi antara Isa dan Iblis ketika mereka berhadapan di bukit pencobaan. Mungkin saja Iblis menuntut tumbal penderitaannya sebagai ganti planet ini? Di Taman Gethsemani, sebelum ia ditangkap, Isa bergumul dan berkeringat hebat karena sebenarnya ia tidak rela mati dianiaya demikian. Harga yang harus ia bayar untuk kelepasan planet ini dari cengkeraman iblis demikian besar.

Isa juga tidak mempunyai motif duniawi.

Satu kali, setelah mujizat memberi makan 5000 orang, orang banyak mendaulatnya sebagai Mesiah dan hendak melantiknya menjadi raja, sebuah kekuasaan yang sangat besar, tetapi Isa menolak. Jawabnya, kira-kira begini: kerajaanku bukan dari dunia ini, tetapi kerajaan spiritual yang tidak kelihatan, dimana Tuhan berkuasa atas jiwa manusia dari dalam, dan jika aku menjadi raja dunia, maka pengikutku harus membela aku. Isa menolak kekuasaan besar yang diberikan rakyat Israel secara demokrasi.  Isa juga tidak lemah karena perempuan. Isa tidak punya istri, sekalipun ada satu korps perempuan yang mengikutinya kemanapun pergi. Ia juga digosipkan dengan Maria Magdalena yang diselamatkannya dari hukum rajam para ulama Yahudi, oleh novel daVinci Code. Tidak ada satupun yang terbukti. Isa mengatakan bahwa misinya terlalu besar dan berbahaya, sehingga ia memutuskan tidak punya istri. Sekali lagi, Urantia Book menceritakan Isa adalah lelaki normal, dan ketika berusia duapuluhan pernah dilamar gadis bernama Ribka, tetapi ditolaknya dengan halus karena alasan diatas itu.

Berkali-kali Isa mengampuni orang berdosa dan mengubah mereka. Ia melayani dan berbuat baik pada sesama hanya karena satu pendorong: belas kasihan atau rahmat. Isa sangat mencintai sesama. Ia berbelas kasihan pada mereka. Ia berbuat baik karena kasihan pada orang banyak yang perlu pertolongan secara rohaniah.

Dengan demikian, jelas mengapa Isa mengajarkan doa semacam ini: Kalau kamu berdoa, demikianlah: BAPA kami yang di surga, dimuliakanlah namamu, datanglah kerajaanmu, dst. Tuhan adalah Bapak umat manusia. Tuhan itu baik seperti Bapak. Ia adalah Bapak alam semesta. Kita semua adalah sesama saudara. Semua statusnya yang percaya adalah anak-anak Tuhan.

Konsep anak Tuhan itu diwahyukan Isa secara pasti. Sebelumnya tidak ada manusia berani mengatakan  itu. Memang tidak ada manusia berani. Isa yang datang dari Tuhan mengatakan dengan pasti: kalian yang percaya adalah statusnya anak-anak Tuhan.

Ajaran manusia sebagai anak Tuhan ini sangat menonjol dalam semua kitab sahih yang ditulis oleh pihak yang mengaku tangan pertama: para sahabat, para malaikat dan oknum gaib, terawang perpustakaan kitab kehidupan, dan sebagainya. Hanya Muhammad yang datang entah darimana 700 tahun kemudian membantah hal itu tanpa sanad atau referensi tertulis yang bisa dipertanggung-jawabkan.

Mengapa manusia bisa saling bermusuhan dan membenci karena agama? Kalau alasannya Tuhan, Bapak yang penuh cinta, tidak ada yang demikian karena semua adalah saudara satu spesies manusia bisa kawin silang. Agama murni tidak akan mengajarkan demikian. Namun kalau ada pengaruh lain masuk, terutama politik dan ekonomi, maka manusia diajari saling membenci sesamanya, mulai dari penyebutan istilah kafir pada yang tidak sepaham, dan ini adalah bentuk diskriminasi yang jahat. Bayangkan oleh saudara dikatain 'kafir,' mau tidak? sakit hati tidak? jahat tidak? Orang di dunia itu bisa dikategorikan kawan atau lawan, seperti dalam game atau sport, tetapi tidak ada yang boleh dicap dengan 'kafir' karena itu diskriminasi. Ngaca, diri kita tidak lebih baik dari mereka sedikitpun. Dalam sepakbola saja, menyebut rasis bisa dihukum berat, mengapa agama yang mengajarkan hal mulia malah membenarkan kafir-kafiran nista ini? Itu karena kepentingan politik dan uang masuk dalam agama, sehingga agama diperalat untuk berkuasa, dan awalnya adalah dengan istilah 'kafir' tadi. Lebih jauh, dengan menciptakan dualisme, manusia bisa dimobilisasi untuk saling membunuh dan membenci, dan itu ciri khas militansi dalam agama. Metode kafir itu untuk menutup hati nurani. Setelah cukup ditanamkan rasa membenci itu dan hilang nurani, maka barulah ulama atau nabi atau siapapun bisa menggerakkan massa untuk menyerbu kota, kedutaan, rumah orang, merampok dan membunuh sesama.  

Contoh, dalam Bible, Jesus dicatat para muridnya menyebut seorang perempuan non-Yahudi (disebut 'kafir' oleh Yahudi saat itu), dengan istilah "anjing." Bagaimana bisa sang Guru yang biasanya menyuruh mengasihi musuh menyebut anjing pada perempuan yang minta tolong anaknya kerasukan setan? Selidik punya selidik aku mencari penjelasannya dari berbagai sumber, ketemu penjelasannya. Rupanya saat itu Isa sedang istirahat di sebuah rumah, dan ketika si perempuan minta tolong di halaman, dihadapilah oleh Simon orang Zelot, seorang murid Isa. yang biasa menangani para tamu. Perempuan itu ngotot minta bertemu Isa yang sedang istirahat di dalam. Alasan Simon tidak ia gubris. Simon orang Zelot rupanya tidak sabar pada perempuan itu, dan keluarlah kata-katanya menganjing-anjingkan perempuan non-Yahudi yang berani kurangajar mengganggu orang Yahudi yang terhormat. Keluarlah aslinya sebagai orang Zelot, yaitu kelompok militan Yahudi, kelompok front pembela yahudi, militan garis keras yahudi. yang menyebut 'kafir' dan 'anjing' pada penjajah Roma dan non-Yahudi lainnya. Aku tahu kelompok mujahidin juga punya istilah sejenis menyebut orang amerika dan kristen, betul bukan?     
Diskriminasi kafir-kafiran harus dihapus selamanya, sebab itu bertentangan dengan fakta bahwa kita semua saudara satu spesies, dan perintah Isa untuk mencintai siapapun termasuk musuh!

Konsep Tuhan sebagai Bapak secara pribadi itu khas ajaran Isa. Dikatakan ratusan kali dalam semua sumber baik yang diakui maupun tidak diakui gereja, dari tulisan mula-mula hingga hari ini. Bahkan kalau ada pengalaman orang meninggal hidup lagi dan sempat bertemu Isa (lihat kesaksian mereka di Youtube), Isa selalu menyapa "anakku..."
Belum pernah dalam sejarah ada manusia berani mengatakan bahwa Tuhan itu bapaknya. Manusia adalah Anak Allah. Manusia memang tidak mungkin mengatakannya. Anak tidak mungkin tahu siapa bapaknya kecuali ada yang memberitahu dia.

Salah satu fakta paling konsisten antara perkataan dan seluruh perbuatan Isa adalah bahwa Tuhan itu Pengasih dan Penyayang, Bapak umat manusia. Itulah yang disebut Kabar Baik atau Injil itu.

Sayang sekali Muhammad yang datang belakangan menurunkan lagi status manusia menjadi budak atau abdi Allah, tentu saja bisa dipahami karena ia hidup ratusan tahun setelahnya, dan ketidak-tahuannya pada ajaran Isa yang paling pokok ini.  Manusia normal seperti Muhammad yang tidak pernah kenal Injil Isa tentu wajar menganggap Tuhan adalah majikan dan manusia adalah budak, tetapi Tuhan mewahyukan diri melalui Isa bahwa Tuhan itu Bapak umat manusia dan status manusia itu anak. Tidak usah takut ancaman neraka kafir atau menyekutukan Allah atau ancaman sejenisnya yang diucapkan manusia yang tidak pernah kenal dan tidak percaya ajaran Isa Almasih. Ajaran ini dijamin oleh Isa Almasih, Yang Terkemuka di Bumi dan Akhirat, Jalan yang Lurus, Hakim atas Hari Kiamat, sang Kalimatullah dan Rohullah, yang masih hidup tidak mati sampai hari ini dan yang akan kalian jumpai baik sekarang maupun ketika kalian mati. Aku sudah selidiki semua sumber sejarah dan pengalaman orang dengan Isa semua konsisten.

Ajaran ini menjadi standar penghakiman pada hari kiamat kelak.

Jadi, ciri khas Isa adalah kasih sayang, belas kasihan dan pengampunan, dan kebaikan pada sesama. Semangat untuk berkorban demi menolong sesama. Ciri khas bahwa Tuhan yang Ia kabarkan itu benar-benar pengasih dan penyayang.