Agama Hamba atau Agama Anak, Takut atau Cinta Allah?

Aku punya pembantu, ia rajin mengerjakan pekerjaan rumah. Sangat rajin dan bekerja keras. Ia patuh menjalankan perintah. Kalau mereka memanggil aku selalu dengan sangat sopan dan tidak berani kurangajar. Tiap akhir bulan ia juga rajin hitung-hitungan gaji dan upah. Kalau hasilnya baik dan aku punya uang, ia dapat tips lebih, tetapi kalau hasilnya buruk, ia dimarahi dan ada kemungkinan dipecat. Aku tidak terlalu peduli pengembangan dirinya, ia harus tahu diri dan rajin, titik. Masa depanku tidak ada urusan dengan masa depannya. Mereka bukan milikku, dan aku bisa saja dengan mudah menghukum mereka dengan kejam, misalnya memecat mereka atau melaporkan ke polisi jika mencuri. 

Aku punya anak, ia tidak rajin dan sering tidak patuh menjalankan perintah juga. Sebaliknya ia seenaknaya saja minta kalau perlu apapun. Meskipun ia tidak pernah hitung-hitungan gaji, karena semua isi rumah ia bisa pakai, tetapi pengeluaran untuk anak adalah yang terbesar, mulai dari sekolah, rekreasi, makan, dan sebagainya, mereka yang lebih menentukan biaya daripada biaya hidupku sendiri. Anak-anakku bahkan bisa mengatur pemakaian televisi, komputer, dan bahkan makanan yang terbaik. Sebagai orang tua yang sudah tidak boleh makan banyak, seringkali kami sudah puas dengan sisa-sisa makanan saja. Anak sekarang sering kurangajar pada orangtua. Anehnya, kalau hasil sekolahnya jelek, aku juga yang pusing. Demikian pula kalau ia melakukan kesalahan, aku tidak bisa memecat dia sebagai anak, meskipun dimarahi. Banyak waktu aku habiskan bersama mereka. Masa depan hidupku bergantung pada anak-anakku, dan semua milikku suatu hari akan  kuwariskan pada mereka. Mereka membawa kebanggaan dan nama besar keluargaku, nama besarku sendiri. Mereka adalah milikku selamanya dan mereka adalah pembawa panji bendera namaku sendiri. Mereka adalah juga aku sendiri.

Baca baik-baik, agama bisa terbagi dua juga: Agama Pembantu atau Agama Anak.



Sekalipun ini konsep sederhana, tetapi alangkah besar pengaruhnya pada agama itu, sebab ini adalah paradigma dasar yang mendasari seluruh bangunan.

Mari kita gali mendalam apa dampak dan pengaruhnya, serta solusi apa yang jitu untuk masalah itu.


Lihatlah agama yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.  Beliau jelas mengajarkan konsep manusia adalah hamba, abdi, budak, bawahan, atau pembantu yang tidak setara dengan sang Tuan.  Dalam agama ini, ritual tatacara sangat memegang peranan dan wajib dilakukan dengan makan sangat banyak waktu, tenaga, dan biaya. Sebut saja berapa tatacara yang perlu diikuti sampai sedetil-detilnya. Untuk penentuan awal puasa saja, harus ada tatacara dan konsensus rumit yang bisa menyebabkan perdebatan. Setelah itu puasa, bagaimana aturan jamnya, sholatnya, sikat gigi, makan obat, menelan ludah, seks, makan apa untuk berbuka, aturan tarawih, dan seterusnya dan sebagainya, lalu penafsiran membingungkan tentang malam lailatul qadar yang semuanya tidak pernah ada bukti merasakan apapun pada malam-malam itu, kecuali begadang mengucapkan ribuan ayat semalaman. Semua harus dilakukan dengan rajin. Tujuannya adalah ... pahala atau upah atau gaji. Perkenanan atau ridha dan ampunan Allah. Semua iming-iming pahala dan perkenan sang Tuan. Sistem hukumnya, detil, namanya adalah hukum syariah. Manusia harus takut pada Allah, takut hukuman neraka, mungkin karena Allah adalah pemilik neraka. Kalau salah ucap sedikit, astagfirulah aladziim, kalau bersin alhamdulihah, kalau menguap allahu akbar, kalau berak tidak boleh mengarah ke kiblat, tidak boleh kurangajar, nanti tertimpa azab yang pedih, sesungguhnya masuk neraka selama-lamanya seperti orang kafir. Suatu hari ada seorang perempuan dituduh berzinah, lalu Muhammad memerintahkan perempuan itu menunggu hingga melahirkan. Perempuan itu minta permohonan terakhir menyusui anaknya, lalu ia dirajam mati tanpa dipikirkan nasib si anak dan keadilan kenikmatan seks yang sudah dinikmati si lelaki bangsat. Pencuri dipotong kaki tangannya, minta minum terakhir kali saja tidak diberi, harus mati di padang pasir. Itulah faktanya nasib budak yang tidak ada harganya. Demikian seterusnya, manusia adalah hamba atau budak yang bisa diatur semaunya oleh Allah yang tidak pernah mereka lihat. Faktanya, manusia diperangkap dan ditindas dalam sistem yang dikuasai para ulama yang munafik. Komunikasi dua arah yang akrab dengan Tuhan tidak mungkin sebab manusia adalah hamba, makhluk yang beda dari Khalik, dan Allah tidak diperanakkan maupun memperanakkan seperti manusia berhubungan esek-esek lalu keluarlah kalian jebrot mbrojol di dunia.

Sebagai budak yang tidak ada harganya, inilah cara manusia normal dunia 100% memandang Tuhan.

Lalu bedakan dengan agama yang dibawa Isa Almasih. Beliau mengajarkan manusia adalah anak-anak dalam keluarga Allah yang adalah Bapak. Doa yang diajarkan dimulainya begini: Abba (Abah) kami yang di surga. Allah yang Pengasih dan Penyayang itu bukan dimulut saja. Suatu hari kepada Isa dibawa seorang perempuan yang dituduh zinah, yang akan dirajam oleh hukum taurat Yahudi. Oleh Isa, perempuan itu diampuni, dan dilepaskan, dan perempuan itu membayarnya dengan menjadi pengikut setia Isa yang Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang. Tatacara? Tidak ada lagi, dibatalkan semua oleh Isa. Isa hanya minta satu: membangun komunikasi tanpa henti dengan Bapak. Bahkan nama Tuhan juga diganti menjadi nama generik bebas yang artinya adalah "bapak", bukan lagi nama tertentu yang tidak boleh salah. Tatacara dihapus, diganti niat hati dan hubungan langsung dengan Tuhan secara batiniah. Tidak ada tatacara doa lagi, dibebaskan, tatacara puasa juga menjadi sunnah, tatacara haji ziarah tidak ada lagi. Isa hanya minta satu tatacara: episode penyaliban atau pembunuhan dirinya itu diperingati, bahwa ia bersedia menjadi sesaji darah dan nyawa untuk memenuhi tuntutan dewa kegelapan yang bernama Yahweh, alien reptilian sumber hukum syariat yang gemar minum darah dan makan daging manusia itu. Kurban Isa itu adalah yang terakhir. Setelah itu tidak dibutuhkan lagi tumbal sajen kambing domba penderitaan binatang yang dipotong lehernya. Masalahnya dalam sistem kebebasan ini, karena kebebasan rohaniah itu, si anak juga sering menjadi kurangajar, mabok dan telanjang semaunya seperti bule-bule itu. Bahkan berani membuat ajaran menjadi ateis, tidak mengakui ayahnya sendiri!
Namun demikian, Isa mengajarkan tentang CINTA pada Allah. Layaknya seorang bapak yang baik, Allah itu Bapak yang lebih baik dari siapapun. Dekatilah dengan cinta dan hormat, bukan dengan takut karena Allah itu bukan Hakim yang menakutkan atau penjaga neraka.
Dan makna yang lebih besar adalah: karena manusia adalah ANAK TUHAN, maka nasib Tuhan akan ditentukan oleh para anak-anak ini. Warisan sang Bapak ini luar biasa besar. Di alam semesta ini ada ratusan juta trilyun bintang. Kosmos ini tidak ada batasnya. Bayangkan jika saja satu trilyun planet yang ada di alam semesta ini ada penduduknya, artinya bisa ditanami kehidupan, dan harus dikelola. Dibutuhkan trilyunan Anak-anak Tuhan yang independen, namun memiliki sifat seperti sang Bapak. Masa depan keluarga ini ditentukan oleh para anak-anak ini. Maka benarlah dimengerti perintah Isa yang nyaris mustahil seperti ini, yang adalah ultimate objective seorang manusia, dan yang statusnya bukan pembantu, tetapi adalah ANAK:

"Jadilah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di Surga adalah sempurna"

Inilah pandangan Tuhan pada manusia, sebagaimana dibawa oleh seorang Utusan dari surga datang pada manusia, Isa Almasih, dari sumber-sumber sahih.

Ini pandangan Isa yang bukan aku dan pengikut Isa yang mengarangnya. Aku tidak berani.  Murid-muridnya juga bingung ketika Isa mengajari mereka adalah anak Allah. Ulama syariah Yahudi mendakwa Isa dengan tuduhan musyrik karena menyamakan diri dengan Tuhan melalui ajaran itu. Berkali-kali para pemuka agama hendak menjebak dan merajam Isa. Tidak mungkin ada manusia berani mengatakan demikian.

Ribuan tahun, agama dunia berkembang maksimal hanya menganggap manusia adalah hamba Allah. Muhammad, karena beliau adalah manusia biasa datang dari bumi, juga maksimal hanya berani berkata abdi Allah. Ketika seorang Utusan dari Tuhan datang dari Surga, barulah ada yang mengatakan kepastian manusia adalah Anak Allah.itulah inti dari yang namanya Injil: Bahwa Allah itu Pengasih dan Penyayang sehingga disebut Bapak dan kita semua, tidak memandang siapapun, adalah anak-anak Tuhan.