Asal Usul Penggunaan Speaker Masjid, Doa dan Show Agama

Darimana kebiasaan suara speaker masjid yang keras-keras itu? darimana kebiasaan melakukan panggilan doa tetapi yang kemudian menjadi salah kaprah menjadi sangat mengganggu ini??

dari pembahasan mengenai kemiripan bahkan kesamaan Islam dan Yahudi abad pertama, aku mendapatkan asal usulnya.

Show propaganda dalam agama adalah masalah yang sudah dibahas dari sejak jaman Isa, dan itu menjadi tema penting ibadah agama. Berikut adalah petunjuk dari Isa Almasih tentang doa:

Suatu kali Isa Almasih berkomentar (dicatat oleh sahabat-sahabatnya, tidak hanya satu, diteladankan Isa sendiri, jadi ini tergolong sahih) mengenai praktek orang Farisi yang senang show agama di depan umum, kalau berdoa di persimpangan jalan supaya dilihat dan dipuji orang, berpakaian hebat seperti orang suci, duduk di depan dan mencari hormat, dan sebagainya, kata Isa, mereka sudah mendapat upahnya (yaitu mendapat kekaguman orang, bukan upah dari Tuhan).

Intinya, ajaran Isa, jangan lakukan kewajiban agama (doa, puasa, sedekah dll) untuk pamer, apalagi untuk propaganda dan menekan secara psikologis, apalagi mengganggu ketenangan warga, sebab ibadah itu adalah urusan tiap manusia pribadi dengan Tuhan. Maka pelaksanaannya haruslah pribadi dengan Tuhan, sebab balasannya adalah juga dari Tuhan.



Tetapi yang kita lihat dalam Islam sekarang adalah berisiknya masjid berkali-kali sehari, naik drastis waktu Ramadhan, bahkan bisa semalaman waktu Idul Fitri, Suara speaker itu sangat keras, dan satu wilayah padat sering dipenuhi lebih dari lima masjid dengan speaker masing-masing yang sangat mengganggu ketenteraman warga. Waktu adzan, semuanya bunyi, ada yang bagus, ada yang serak, ada yang lebih mirip orang teriak-teriak, dan ada yang fals mirip orang idiot. Kadang tidak jarang disertai lolongan anjing. Sering dipakai untuk mainan anak-anak. Bahkan rumah dekat masjid itu karena terpaksa, rumah itu akan cepat dijual saja karena sangat tidak nyaman. Masjid itu akan mendapat upahnya disumpah serapahi orang, Apalagi dengan niatan propaganda agama, itu lebih menyebalkan lagi, karena khutbah yang SARA kafir-kafiran disiarkan keras-keras. Apa tidak menyebabkan dosa??

Bayangkan teknologi dipakai begini. Inilah kalau agama tidak memanfaatkan teknologi dengan benar. Berteriak teriak membangunkan orang tidur dengan sembarangan. Kalau membangunkan orang tidur, ada yang lebih baik, pakai alarm hp saja, lebih praktis dan dan etis, tidak mengganggu orang lain.

Jadi masalah ini lebih serius karena ada persoalan pemahaman orang Islam mengenai Allah yang sangat jasmani dan memaksa. Konsepnya konsep Arab abad 7 yang meniru Yahudi abad 1.

Ada humor Gus Dur. GD almarhum berkata, lihat tuh orang Hindu saja memanggil Tuhan dengan sebutan OM, om shanti shanti om.... Orang kristen memanggil Tuhannya bapaknya, erat sekali hubungan mereka dengan Tuhan, tapi orang Islam itu panggil Tuhan sekeras-kerasnya dengan speaker karena tidak tahu Tuhannya itu siapa dan dimana...



Intinya, ajaran Isa, jangan lakukan kewajiban agama (doa, puasa, sedekah dll) untuk pamer, untuk menyusahkan orang, apalagi untuk propaganda, sebab ibadah itu adalah urusan tiap manusia PRIBADI dengan Tuhan. Maka pelaksanaannya haruslah pribadi dengan Tuhan, sebab balasannya adalah juga dari Tuhan.


Contoh lain, Isa mengajarkan doa itu adalah hubungan manusia dan Tuhan, maka jangan bertele-tele, katanya, atau doa jangan diulang ulang ulang, menjadi seperti mantra, menganggap bahwa dengan demikian doa lebih manjur.
Coba dengarkan doa di masjid dan dalam shalat, itu diulang ulang ulang tidak ada makna dan ujung pangkalnya, sekian ratus kali, bahkan pakai tasbih sekalian. Praktek doa diulang ini dilakukan dalam magic dan memanggil jin. Temanku yang paranormal dan bisa melihat makhluk gaib mengatakan bahwa dengan doa diulang demikian yang datang adalah JIN. Ia contohkan, coba katakan weleh-weleh-weleh seratus kali, nanti jin pasti datang. Itu memang caranya, kata dia.
Maka praktek doa diulang ulang ulang ini pelanggaran dan kebalikan dari prinsipnya Isa, karena Isa tahu apa yang akan terjadi jika dilakukan. Bukan saja karena ketidak percayaan orang, menganggap doa makin manjur karena banyaknya perkataan, juga karena menganggap Tuhan itu tuli dan jauh, tetapi tanpa sadar ia sedang memanggil jin.

Satu lagi, bukan karena indahnya kata-kata, namun karena Tuhan melihat ke dalam batin dan mengetahui niat hati manusia sebelum ia mengucapkannya. Ada doa yang dibuat seperti puisi, dinyanyikan, dilombakan, dan seterusnya untuk memukau orang. Doa begini sudah pasti sia-sia. 

Isa mengajarkan mengenai daya tarik spiritual. Itulah ciri khas manusia ilahiyah. Mengajarkan agama itu dengan menarik orang datang, bukan memaksa orang ikut. Pull, bukan push. Kalau hidup kita baik, kita menjadi seperti lampu, orang datang. Kalau kita menjadi seperti pohon, orang berteduh dan burung mencari makan. Tanpa promosi macam-macam orang mencari dan datang. Bukan dengan gembar-gembor memekakkan telinga mengganggu dan memaksa orang mendengarkan suara kita yang sumbang. Dengan speaker keras memaksa bahkan menteror, menekan orang agar mendengar dan ikut. Lagunya juga nada minor nada sedih seperti orang menangis, membuat orang menjadi sedih dan bahkan sebal. Tariklah orang datang dengan keunggulan. Bukan dengan menakuti orang dengan neraka yang kita sendiri tidak bisa buktikan. Bukan dengan mengancam bunuh siapa yang berani murtad. Bukan mengancam bakar rumahnya kalau tidak ikut Jumatan. Coba bagaimana kalau perintah ini dijalankan, apa tidak banyak rumah dan mall dibakari karena mereka beroperasi terus hari Jumat siang??

Jadi, tolonglah soal masjid ini ditata. Jadikan suara adzan itu indah dan untuk tiap wilayah ditata. Kurangi volumenya. Hargai privasi orang. Biar orang pakai alarm hp saja. Satu wilayah, cukup satu masjid yang pakai speaker keras.  Sudah dengar kok, jangan kuatir.